JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Pengurus Besar Persatuan
Guru Republik Indonesia Sulistyo mengatakan, berbagai persoalan yang
terjadi di Tanah Air memiliki korelasi langsung maupun tidak langsung
dengan penyelenggaraan pendidikan nasional. Menurutnya, sistem
pendidikan nasional saat ini belum mampu memberikan kontribusi yang
signifikan bagi pencerdasan bangsa. Padahal, katanya, hal ini akan
membawa implikasi terhadap kemakmuran dan martabat mulia bangsa.
Desain pendidikan nasional, menurut Sulistyo, meneruskan kerangka politik etis pemerintah kolonial Belanda. Hal itu tercermin pada pendidikan yang masih diskriminatif, menghasilkan tenaga kerja murah, dan menciptakan lulusan yang berorientasi menjadi pegawai negara.
"Kebijakan yang tidak jelas antara pusat dan daerah membuat pendidikan kita juga menjadi tidak jelas, apakah pendidikan nasional, atau pendidikan daerah," kata Sulistyo saat syukuran memperingati Hari Guru Nasional dan hari jadi PGRI ke-66, di gedung PGRI, Jakarta, Kamis (24/11/2011).
Menurutnya, pendidikan nasional belum disusun sebagai sebuah upaya membangun mindset
dan mentalitas bangsa merdeka yang bertanggungjawab terhadap diri serta
lingkungannya. Ketiadaan visi dan program pendidikan yang tidak
diagendakan dalam strategi pembangunan ekonomi dan kebudayaan bangsa,
dinilainya sebagai salah satu pemicu utama yang membuat operasi
pendidikan nasional berlangsung seperti tanpa arah.
"Itulah mengapa sejak lama kami meneriakkan agar segera dilaksanakan evaluasi terhadap otonomi daerah. Jika tidak, kami khawatir pendidikan menjadi semakin tidak jelas," kata Sulistyo.
Sumber: http://edukasi.kompas.com
Desain pendidikan nasional, menurut Sulistyo, meneruskan kerangka politik etis pemerintah kolonial Belanda. Hal itu tercermin pada pendidikan yang masih diskriminatif, menghasilkan tenaga kerja murah, dan menciptakan lulusan yang berorientasi menjadi pegawai negara.
"Kebijakan yang tidak jelas antara pusat dan daerah membuat pendidikan kita juga menjadi tidak jelas, apakah pendidikan nasional, atau pendidikan daerah," kata Sulistyo saat syukuran memperingati Hari Guru Nasional dan hari jadi PGRI ke-66, di gedung PGRI, Jakarta, Kamis (24/11/2011).
Kebijakan yang tidak jelas antara pusat
dan daerah membuat pendidikan kita juga menjadi tidak jelas, apakah
pendidikan nasional, atau pendidikan daerah

"Itulah mengapa sejak lama kami meneriakkan agar segera dilaksanakan evaluasi terhadap otonomi daerah. Jika tidak, kami khawatir pendidikan menjadi semakin tidak jelas," kata Sulistyo.
Sumber: http://edukasi.kompas.com

0 komentar:
Posting Komentar