Wanita dan media sosial, semacam perkawinan silang yang saling menguntungkan. Satu sisi menyuarakan, menampilkan, memperlihatkan dan satu lagi menyeramkan. Apa kabar para wanita di hari kartini sekarang?
Hari ini, tepatnya hari senin, tanggal 21 April, saya baru saja menghubungi dua wanita yang paling saya sayangi. Satu dari generasi masa lalu, mamah, dan satu lagi dari generasi sekarang (media sosial), pasangan. Alhamdulillah, hari ini keduanya masih diberi kesehatan dan kabar baik.
Wanita sekarang ?
Mungkin seolah ini mewakili semua dan saya siap mendapat caci maki karena tulisan ini. Padahal, saya menulis ini hanyalah opini yang dibangun dari sudut pandang saya sendiri dan satu wanita yang saya sayangi (jadi objek). So, anggap aja ini sebagian kecil dari para wanita.
Ditengah pertumbuhan media sosial yang cantik ini, wanita mendapat keuntungan paling besar. Mereka bebas mengekspresikan diri mereka baik melalui tulisan, foto maupun video.
Berbeda dengan pria, ekspresi yang dapat dilakukan paling maksimal foto berdua dengan teman sejenis atau orang-orang hebat. Mau nunjukin otot tubuh tapi apa daya badan hanya tulang belulang. Belum lagi mau narsis malah yang didapat orang-orang sinis.
Wanita sekarang bukan lagi wanita yang tidak bisa berdandan. Berbagai pose pun mereka tunjukkan untuk sekedar mendapat love lewat akun instagram. Atau aplikasi lainnya yang cocok dengan dirinya. Tidak masalah seberapa menariknya dia. Toh, para followers yang nentuin.
Lalu, tempat berkeluh kesah semacam jejaring sosial. Disana mereka menemukan sesuatu diantara jurang ketidakpastian. Bebas berekspresi, mengungkapkan apa saja. Padahal banyak predator yang menanti. Yah, pria-pria yang tidak tanggung jawab yang asal komentar dengan harapan ada angin segar.
Seharusnya media sosial dijadikan tempat inspirasi
Saya agak lucu juga membaca tulisan seorang wanita yang saya kenal betul yang menuliskan masa lalunya lewat blog. Lalu disebarkan melalui jejaring sosial yang tujuannya pasti ingin dibaca banyak orang.
Banyak tanggapan beragam dari apa yang disampaikan lewat jejaring sosial tersebut. Intinya, tulisan itu menarik, lucu dan tanggapannya positif. Tapi sangat disayangkan menurut saya.
Ia menceritakan aib nya sendiri yang memang baginya itu lucu. Coba disuruh kembali ke masa lalu, apakah aib seseorang akan diceritakan ketika itu terjadi beberapa hari kemudian. Pastinya tidak mau dan malu. Karena ceritanya udah lama, yah jadi lucu kesannya.
Lalu belum lagi, kegalauan wanita yang banyak ditemukan lewat jejaring sosial karna urusan cinta. Termasuk kata-kata mutiara (cacimaki) yang ditujukan untuk gebetan, pasangan dan hingga keluarga. Apakah tipe wanita seperti ini yang bisa dipercayai memelihara bahtera rumah tangga.
Dikit-dikit cerita tentang kebobrokan rumah tangga atau bersama pasangannya. Tipe orang seperti ini hampir mirip dengan kasus sepasang kekasih yang membunuh seorang wanita tanpa dosa sama sekali yang masih bermain jejaring sosial. Apakah ini yang dimau??
Jika ini ditanyakan kepada saya, maka seharusnya media sosial dijadikan tempat inspirasi. Bukan lagi mencari sensasi. Sudah banyak contoh, wanita - wanita sekarang mendapatkan keuntungan dari apa yang mereka bagi lewat media sosial.
Seperti misal, kamu yang suka desain maka kamu bisa berbagi gambar yang dapat menginspirasi kedepannya menjadi desainer top Indonesia. Atau juga berbagi fashion sehari-hari dan nyatanya tumbuh berbagai wanita yang berkarir fashion yang menginspirasi.
Andai, Kartini hidup dimasa media sosial
Berkaca lewat seorang perempuan yang melahirkan saya, apakah beliau akan bertahan dengan kehidupan sekarang? Kehidupan yang dilewatkan setengah abad hanya mengurusi keluarganya.
Egoisnya anak-anak, kerasnya kepala rumah tangga dan mungkin juga cacimaki tetangga yang mungkin tidak akan diterima oleh generasi wanita dijaman sekarang.
Apakah bisa selfie ketika berharap dibagi lewat media sosial akan ada yang komentar. Dibilang masih muda dan cantik dan lain sebagainya. Padahal saat dirumah, penampilan terlihat biasa dan bahkan tidak begitu cantik.
Lalu, cantik itu buat siapa? Apakah saya rela, mamah saya disukai banyak orang dan tiba-tiba suka jalan dengan pria-pria yang dikenalnya lewat media sosial. Hahaha.. itu hanya gambaran, jangan dianggap serius.
Andai, kartini hidup dimana media sosial sudah begitu cantiknya sekarang, tentu akan lebih banyak digunakan menjadi tempat berbagi yg memotivasi.
Beliau menjadi lebih suka berbagi tentang kehidupannya yang dimana ia berhasil membangun sekolah-sekolah bagi wanita yang kurang mendapatkan perhatian. Intinya, lebih memberi sesuatu yang positif.
Sekarang, kita dapat melihat contoh Kartini yang tumbuh meski tidak besar. Salah satunya, Melanie Subono. Kebenaran saya bertemu langsung saat di Semarang meski tidak tegur sapa. Pasti tahu kan apa yang terjadi dengan seorang wanita yang menjadi TKI di Arab itu.
….
Hai kawan dan para wanita yang saya sayangi *eh. Apa kabar kalian hari ini dihari Kartini. Selamat buat kalian, para wanita hebat yang membesarkan pria-pria seperti saya. Membuatnya lebih hebat dan tentu memberi kasih sayang.
Semangat Kartini janganlah disalah artikan. Wanita tetaplah kodratnya wanita. Jangan menyalahkan waktu dan jaman dengan berbagai anggapan.
Sudah sepatutnya kalian lebih bertahan dan berperan. Saya yakin, negara ini sangat butuh kalian. Pria-pria menjadi besar karna keyakinan kalian.
Selamat hari Kartini buat para wanita Indonesia.
Salam blogger
Sumber : http://asmarie.blogdetik.com/2014/04/21/hari-kartini-dan-melihat-sisi-wanita-di-era-media-sosial/
Hari ini, tepatnya hari senin, tanggal 21 April, saya baru saja menghubungi dua wanita yang paling saya sayangi. Satu dari generasi masa lalu, mamah, dan satu lagi dari generasi sekarang (media sosial), pasangan. Alhamdulillah, hari ini keduanya masih diberi kesehatan dan kabar baik.
Wanita sekarang ?
Mungkin seolah ini mewakili semua dan saya siap mendapat caci maki karena tulisan ini. Padahal, saya menulis ini hanyalah opini yang dibangun dari sudut pandang saya sendiri dan satu wanita yang saya sayangi (jadi objek). So, anggap aja ini sebagian kecil dari para wanita.
Ditengah pertumbuhan media sosial yang cantik ini, wanita mendapat keuntungan paling besar. Mereka bebas mengekspresikan diri mereka baik melalui tulisan, foto maupun video.
Berbeda dengan pria, ekspresi yang dapat dilakukan paling maksimal foto berdua dengan teman sejenis atau orang-orang hebat. Mau nunjukin otot tubuh tapi apa daya badan hanya tulang belulang. Belum lagi mau narsis malah yang didapat orang-orang sinis.
Wanita sekarang bukan lagi wanita yang tidak bisa berdandan. Berbagai pose pun mereka tunjukkan untuk sekedar mendapat love lewat akun instagram. Atau aplikasi lainnya yang cocok dengan dirinya. Tidak masalah seberapa menariknya dia. Toh, para followers yang nentuin.
Lalu, tempat berkeluh kesah semacam jejaring sosial. Disana mereka menemukan sesuatu diantara jurang ketidakpastian. Bebas berekspresi, mengungkapkan apa saja. Padahal banyak predator yang menanti. Yah, pria-pria yang tidak tanggung jawab yang asal komentar dengan harapan ada angin segar.
Seharusnya media sosial dijadikan tempat inspirasi
Saya agak lucu juga membaca tulisan seorang wanita yang saya kenal betul yang menuliskan masa lalunya lewat blog. Lalu disebarkan melalui jejaring sosial yang tujuannya pasti ingin dibaca banyak orang.
Banyak tanggapan beragam dari apa yang disampaikan lewat jejaring sosial tersebut. Intinya, tulisan itu menarik, lucu dan tanggapannya positif. Tapi sangat disayangkan menurut saya.
Ia menceritakan aib nya sendiri yang memang baginya itu lucu. Coba disuruh kembali ke masa lalu, apakah aib seseorang akan diceritakan ketika itu terjadi beberapa hari kemudian. Pastinya tidak mau dan malu. Karena ceritanya udah lama, yah jadi lucu kesannya.
Lalu belum lagi, kegalauan wanita yang banyak ditemukan lewat jejaring sosial karna urusan cinta. Termasuk kata-kata mutiara (cacimaki) yang ditujukan untuk gebetan, pasangan dan hingga keluarga. Apakah tipe wanita seperti ini yang bisa dipercayai memelihara bahtera rumah tangga.
Dikit-dikit cerita tentang kebobrokan rumah tangga atau bersama pasangannya. Tipe orang seperti ini hampir mirip dengan kasus sepasang kekasih yang membunuh seorang wanita tanpa dosa sama sekali yang masih bermain jejaring sosial. Apakah ini yang dimau??
Jika ini ditanyakan kepada saya, maka seharusnya media sosial dijadikan tempat inspirasi. Bukan lagi mencari sensasi. Sudah banyak contoh, wanita - wanita sekarang mendapatkan keuntungan dari apa yang mereka bagi lewat media sosial.
Seperti misal, kamu yang suka desain maka kamu bisa berbagi gambar yang dapat menginspirasi kedepannya menjadi desainer top Indonesia. Atau juga berbagi fashion sehari-hari dan nyatanya tumbuh berbagai wanita yang berkarir fashion yang menginspirasi.
Andai, Kartini hidup dimasa media sosial
Berkaca lewat seorang perempuan yang melahirkan saya, apakah beliau akan bertahan dengan kehidupan sekarang? Kehidupan yang dilewatkan setengah abad hanya mengurusi keluarganya.
Egoisnya anak-anak, kerasnya kepala rumah tangga dan mungkin juga cacimaki tetangga yang mungkin tidak akan diterima oleh generasi wanita dijaman sekarang.
Apakah bisa selfie ketika berharap dibagi lewat media sosial akan ada yang komentar. Dibilang masih muda dan cantik dan lain sebagainya. Padahal saat dirumah, penampilan terlihat biasa dan bahkan tidak begitu cantik.
Lalu, cantik itu buat siapa? Apakah saya rela, mamah saya disukai banyak orang dan tiba-tiba suka jalan dengan pria-pria yang dikenalnya lewat media sosial. Hahaha.. itu hanya gambaran, jangan dianggap serius.
Andai, kartini hidup dimana media sosial sudah begitu cantiknya sekarang, tentu akan lebih banyak digunakan menjadi tempat berbagi yg memotivasi.
Beliau menjadi lebih suka berbagi tentang kehidupannya yang dimana ia berhasil membangun sekolah-sekolah bagi wanita yang kurang mendapatkan perhatian. Intinya, lebih memberi sesuatu yang positif.
Sekarang, kita dapat melihat contoh Kartini yang tumbuh meski tidak besar. Salah satunya, Melanie Subono. Kebenaran saya bertemu langsung saat di Semarang meski tidak tegur sapa. Pasti tahu kan apa yang terjadi dengan seorang wanita yang menjadi TKI di Arab itu.
….
Hai kawan dan para wanita yang saya sayangi *eh. Apa kabar kalian hari ini dihari Kartini. Selamat buat kalian, para wanita hebat yang membesarkan pria-pria seperti saya. Membuatnya lebih hebat dan tentu memberi kasih sayang.
Semangat Kartini janganlah disalah artikan. Wanita tetaplah kodratnya wanita. Jangan menyalahkan waktu dan jaman dengan berbagai anggapan.
Sudah sepatutnya kalian lebih bertahan dan berperan. Saya yakin, negara ini sangat butuh kalian. Pria-pria menjadi besar karna keyakinan kalian.
Selamat hari Kartini buat para wanita Indonesia.
Salam blogger
Sumber : http://asmarie.blogdetik.com/2014/04/21/hari-kartini-dan-melihat-sisi-wanita-di-era-media-sosial/

0 komentar:
Posting Komentar